Saat Korban Pemerkosaan Mengalami Orgasme: Kenikmatan Ataukah ...

Foto: copyright pexels.com
 
Bintangbola - Masih membekas dalam ingatan saya meski sudah 4 tahun berselang, sebuah pernyataan yang keluar dari mulut seorang hakim kenamaan Indonesia, Daming Sunusi. Dalam sidang fit and proper testyang dilakukan pada bulan Januari 2013 itu, Daming menyatakan bahwa pelaku pemerkosaan tidak perlu dihukum mati karena pelaku dan korban sama-sama menikmati tindakan tersebut.

Akibat pernyataannya itulah, nama Daming mencuat dan menuai banyak hujatan dari masyarakatan. Pernyataan pria kelahiran Bulukumba ini dianggap insensitif, mendorong tindak pemerkosaan dan peringanan hukuman terhadap pelaku pemerkosaan di bawah payung alasan, "Kalau memang nggak menikmati, kenapa kok bisa sampai orgasme?"

Consent (persetujuan), sebuah kata kunci

Hubungan seksual merupakan suatu hubungan yang semestinya dilakukan berdasarkan cinta. Tapi, cinta saja rupanya tak cukup karena hubungan sakral tersebut haruslah dilakukan dengan consent.

Consent, menurut Rape, Abuse and Incest National Network atau RAINN, adalah "persetujuan antara mereka yang terlibat dalam aktivitas seksual". Sudah jelas bahwa consentmelibatkan persetujuan dua belah pihak, bukan hanya sepihak saja.

Sekalipun suami-istri yang telah sah secara hukum negara dan agama, consent adalah hal yang semestinya dijunjung tinggi. Karena tanpa consent, hubungan seksual hanyalah ampas pemaksaan dan kesakitan, secara psikis dan fisik.



BINTANGBOLA - Website Agen Bola Terbaik dan Terpercaya di Indonesia
SBOBET | IBCBET | Togel Online (Klik4D) | Casino Online
Tangkasnet | Nova Poker

 


"Katanya gak menikmati, kenapa kok bisa sampai orgasme?"

Bukan hanya Daming Sunusi saja yang beranggapan bahwa pelaporan tindak pemerkosaan itu meragukan jika kedua orang yang terlibat di dalamnya mengalami orgasme. Masih banyak orang yang berpendapat secara naif bahwa yang namanya pemerkosaan itu "seharusnya" tidak disertai orgasme karena orgasme diasosiasikan sebagai bentuk perwujudan persetujuan dan kenikmatan secara fisik maupun mental.

Jenny Morber dalam artikel yang dimuat di Popular Sciencemenuliskan bahwa pemerkosaan tidak selalu dilakukan dengan kekerasan. Beberapa survivor "menyerahkan" dirinya pada pelaku untuk melindungi dirinya sendiri atau orang yang mereka cintai (mengorbankan diri demi anak, misalnya). Pada banyak kasus, pemerkosaan terjadi saat korban dalam posisi tak berdaya, misalnya dalam pengaruh obat-obatan, minuman keras atau lemah secara mental.

Sebuah laporan medis di tahun 2004 menyebutkan bahwa sekitar lima persen korban pemerkosaan mengalami lubrikasi dan orgasme. Ya, mereka mengalami kepuasan seksual saat diperkosa. Bahkan, secara anonymousbanyak korban pemerkosaan yang mengaku mereka mengalami multiple orgasm dan hal ini sangat mengganggu mereka seumur hidup.


Orgasme, reaksi biologis tubuh manusia terhadap rangsangan seksual

Pendidikan seks yang benar bisa melindungi anak dari berbagai masalah yang berkaitan dengan organ reproduksi. Termasuk dari kejahatan seksual. “Ma, penis itu apa?” tanya Zaki yang berusia lima tahun kepada ibunya. Bagi Zaki, istilah ‘penis’ merupakan hal baru. Sebab menurut pengetahuannya, alat kelaminnya bernama ‘burung’. “Saya bingung juga. Bagaimana cara menjelaskannya ya? Masa sih anak kecil sudah diajari yang beginian,” ujar Ibunda Zaki. Cerita di atas bisa jadi mewakili banyak pengalaman orang tua yang kebingungan ketika ditanya seputar organ kelamin oleh si kecil. Betulkah membicarakan organ kelamin yang notabene masuk ke dalam pendidikan seks tak pantas diajarkan pada anak kecil? Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi. menegaskan kalau pendidikan seks itu cakupannya luas sekali. Mulai dari pengenalan anggota tubuh sampai bagaimana cara merawat dan menjaganya. Jadi, salah besar jika menganggap pendidikan seks itu hanya seputar hubungan seks antara pria dan wanita. Mengenalkan nama alat kelamin yang benar pun termasuk pendidikan seks. “Pendidikan seks bisa dibilang sebagai bekal perlindungan anak di masa depan. Karena pendidikan seks dapat membuat anak lebih mengerti dan peduli tentang tubuhnya,” ujar psikolog yang akrab dipanggil Vera ini kepada Kompas.com. Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan anak untuk merawat dan menjaga organ reproduksinya. Harapannya, agar anak terhindar dari masalah kesehatan yang berkaitan dengan organ reproduksi. Bahkan, lanjut Vera, pendidikan seks bisa membentengi anak dari kejahatan seksual. Alasannya, pendidikan seks yang benar akan mengajarkan anak mengenai perlakuan yang tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya, terutama terhadap organ sensitif seperti alat kelamin. “Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan apa yang bisa dilakukan oleh anak untuk membela dirinya,” ucap Vera. Karenanya, pendidikan seks sebenarnya bukan hal tabu dan boleh diajarkan kepada anak. Bahkan, sebaiknya diberikan sedini mungkin. “Mengingat anak jaman sekarang banyak yang sudah masuk usia pubertas di usia 9-10 tahun. Pendidikan seks sebaiknya diberikan agar anak lebih tahu bagaimana membatasi pergaulan agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas,” kata Vera. Pendidikan seks bisa dimulai dari sekolah. Misalnya dengan menyisipkan materi pendidikan seks ke dalam mata pelajaran yang berkaitan. “Dengan maraknya kejahatan seksual pada anak, mestinya makin disadari bahwa salah satu cara melindungi anak adalah memberikan pendidikan seks yang tepat pada anak baik di rumah maupun di sekolah. Ini semestinya bukan lagi jadi hal tabu,” imbuh Vera.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Seks, Bekal Perlindungan Anak di Masa Depan", https://lifestyle.kompas.com/read/2016/11/18/200500923/pendidikan.seks.bekal.perlindungan.anak.di.masa.depan.
Penulis : Michael Metekoh
Dalam tulisannya, Morber menerangkan bahwa kepuasan seksual muncul sebagai reaksi biologis tubuh manusia. Sama seperti saat kita merasa ketakutan, tanpa bisa dikontrol tubuh kita merasa merinding. Tubuh punya caranya sendiri merespon sesuatu, tanpa bisa dikendalikan.

Orgasme yang terjadi pada kasus pemerkosaan bukanlah ekspresi kepuasan sang korban. Bukan pula tanda bahwa korban menikmati dan bukanlah hal yang diinginkan oleh sang korban, melainkan murni respon tubuh secara biologis menanggapi rangsangan dan stimulasi. Layaknya kita bersin saat debu masuk ke hidung, mengeluarkan keringat saat udara panas atau kegelian saat dikelitik. Sesuatu yang tak bisa dikendalikan.

Kepuasan seksual terjadi dalam dua kondisi, yaitu kondisi kejiwaan dan kondisi fisik. Pada hubungan seksual yang dilakukan dengan kesadaran dan consent penuh, kepuasan terjadi pada kedua kondisi tersebut. Namun, pada kasus pemerkosaan, korban hanya mengalami kepuasan seksual secara fisik. Para korban merasa bergairah secara fisik, tetapi tidak secara mental bahkan mungkin merasa jijik.


Lubrikasi, bentuk 'perlindungan' diri

Rangsangan tubuh, secara seksual, menghasilkan lubrikasi pada area genital. Lubrikasi ini pun dialami oleh korban pemerkosaan karena hal ini merupakan respon fisik. Murni respon fisik yang tak bisa dikendalikan dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan consentyang saya sebut di atas.

Namun, lubrikasi pada alat kelamin ini tidak dapat serta-merta diasosiasikan dengan kenikmatan, melainkan sebagai bentuk perwujudan perlindungan.

Sederhananya, tubuh manusia mencoba untuk melindungi dan menjaga dari kemungkinan rasa sakit yang terjadi akibat pemaksaan.

Melihat kenikmatan seksual yang dirasakan korban pemerkosaan sebagai hal yang relevan dengan consent, menurut saya, adalah hal yang sangat dangkal. Apalagi jika hal ini dijadikan 'pembenaran' dan pemakluman terhadap pelaku pemerkosaan untuk bisa lepas dari jeratan hukum dan tanggungjawab moralnya.

Seperti yang dijelaskan di atas, kenikmatan seksual secara fisik saja tetapi secara mental menolaknya, tak bisa dikatakan kepuasan yang utuh. Layaknya hubungan seksual suami-istri yang dilakukan berlandaskan cinta dan consent.

Ada banyak perspektif soal kasus pemerkosaan yang harus kita sadari dan kita luruskan. Pemerkosaan tidak selalu dengan kekerasan. Korban pemerkosaan tak selalu perempuan, ada juga laki-laki yang menjadi korbannya. Pelaku pemerkosaan pun bisa saja perempuan. Pemerkosaan tak selalu terjadi karena pakaian atau gestur tubuh yang mengundang.
Sudah saatnya kita memilah-milah pandangan kita dan tidak naif menjatuhkan penghakiman pada mereka yang mengalaminya.

Posted bBintangbola
Kami ada karena Anda

 

BintangBola | NovaPoker
BBM : D61870BD
WhapApp : +855-81-287-168
WeChat : BINTANGBOLA

Pendidikan seks yang benar bisa melindungi anak dari berbagai masalah yang berkaitan dengan organ reproduksi. Termasuk dari kejahatan seksual. “Ma, penis itu apa?” tanya Zaki yang berusia lima tahun kepada ibunya. Bagi Zaki, istilah ‘penis’ merupakan hal baru. Sebab menurut pengetahuannya, alat kelaminnya bernama ‘burung’. “Saya bingung juga. Bagaimana cara menjelaskannya ya? Masa sih anak kecil sudah diajari yang beginian,” ujar Ibunda Zaki. Cerita di atas bisa jadi mewakili banyak pengalaman orang tua yang kebingungan ketika ditanya seputar organ kelamin oleh si kecil. Betulkah membicarakan organ kelamin yang notabene masuk ke dalam pendidikan seks tak pantas diajarkan pada anak kecil? Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi. menegaskan kalau pendidikan seks itu cakupannya luas sekali. Mulai dari pengenalan anggota tubuh sampai bagaimana cara merawat dan menjaganya. Jadi, salah besar jika menganggap pendidikan seks itu hanya seputar hubungan seks antara pria dan wanita. Mengenalkan nama alat kelamin yang benar pun termasuk pendidikan seks. “Pendidikan seks bisa dibilang sebagai bekal perlindungan anak di masa depan. Karena pendidikan seks dapat membuat anak lebih mengerti dan peduli tentang tubuhnya,” ujar psikolog yang akrab dipanggil Vera ini kepada Kompas.com. Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan anak untuk merawat dan menjaga organ reproduksinya. Harapannya, agar anak terhindar dari masalah kesehatan yang berkaitan dengan organ reproduksi. Bahkan, lanjut Vera, pendidikan seks bisa membentengi anak dari kejahatan seksual. Alasannya, pendidikan seks yang benar akan mengajarkan anak mengenai perlakuan yang tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya, terutama terhadap organ sensitif seperti alat kelamin. “Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan apa yang bisa dilakukan oleh anak untuk membela dirinya,” ucap Vera. Karenanya, pendidikan seks sebenarnya bukan hal tabu dan boleh diajarkan kepada anak. Bahkan, sebaiknya diberikan sedini mungkin. “Mengingat anak jaman sekarang banyak yang sudah masuk usia pubertas di usia 9-10 tahun. Pendidikan seks sebaiknya diberikan agar anak lebih tahu bagaimana membatasi pergaulan agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas,” kata Vera. Pendidikan seks bisa dimulai dari sekolah. Misalnya dengan menyisipkan materi pendidikan seks ke dalam mata pelajaran yang berkaitan. “Dengan maraknya kejahatan seksual pada anak, mestinya makin disadari bahwa salah satu cara melindungi anak adalah memberikan pendidikan seks yang tepat pada anak baik di rumah maupun di sekolah. Ini semestinya bukan lagi jadi hal tabu,” imbuh Vera.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Seks, Bekal Perlindungan Anak di Masa Depan", https://lifestyle.kompas.com/read/2016/11/18/200500923/pendidikan.seks.bekal.perlindungan.anak.di.masa.depan.
Penulis : Michael Metekohy
Pendidikan seks yang benar bisa melindungi anak dari berbagai masalah yang berkaitan dengan organ reproduksi. Termasuk dari kejahatan seksual. “Ma, penis itu apa?” tanya Zaki yang berusia lima tahun kepada ibunya. Bagi Zaki, istilah ‘penis’ merupakan hal baru. Sebab menurut pengetahuannya, alat kelaminnya bernama ‘burung’. “Saya bingung juga. Bagaimana cara menjelaskannya ya? Masa sih anak kecil sudah diajari yang beginian,” ujar Ibunda Zaki. Cerita di atas bisa jadi mewakili banyak pengalaman orang tua yang kebingungan ketika ditanya seputar organ kelamin oleh si kecil. Betulkah membicarakan organ kelamin yang notabene masuk ke dalam pendidikan seks tak pantas diajarkan pada anak kecil? Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi. menegaskan kalau pendidikan seks itu cakupannya luas sekali. Mulai dari pengenalan anggota tubuh sampai bagaimana cara merawat dan menjaganya. Jadi, salah besar jika menganggap pendidikan seks itu hanya seputar hubungan seks antara pria dan wanita. Mengenalkan nama alat kelamin yang benar pun termasuk pendidikan seks. “Pendidikan seks bisa dibilang sebagai bekal perlindungan anak di masa depan. Karena pendidikan seks dapat membuat anak lebih mengerti dan peduli tentang tubuhnya,” ujar psikolog yang akrab dipanggil Vera ini kepada Kompas.com. Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan anak untuk merawat dan menjaga organ reproduksinya. Harapannya, agar anak terhindar dari masalah kesehatan yang berkaitan dengan organ reproduksi. Bahkan, lanjut Vera, pendidikan seks bisa membentengi anak dari kejahatan seksual. Alasannya, pendidikan seks yang benar akan mengajarkan anak mengenai perlakuan yang tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya, terutama terhadap organ sensitif seperti alat kelamin. “Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan apa yang bisa dilakukan oleh anak untuk membela dirinya,” ucap Vera. Karenanya, pendidikan seks sebenarnya bukan hal tabu dan boleh diajarkan kepada anak. Bahkan, sebaiknya diberikan sedini mungkin. “Mengingat anak jaman sekarang banyak yang sudah masuk usia pubertas di usia 9-10 tahun. Pendidikan seks sebaiknya diberikan agar anak lebih tahu bagaimana membatasi pergaulan agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas,” kata Vera. Pendidikan seks bisa dimulai dari sekolah. Misalnya dengan menyisipkan materi pendidikan seks ke dalam mata pelajaran yang berkaitan. “Dengan maraknya kejahatan seksual pada anak, mestinya makin disadari bahwa salah satu cara melindungi anak adalah memberikan pendidikan seks yang tepat pada anak baik di rumah maupun di sekolah. Ini semestinya bukan lagi jadi hal tabu,” imbuh Vera.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Seks, Bekal Perlindungan Anak di Masa Depan", https://lifestyle.kompas.com/read/2016/11/18/200500923/pendidikan.seks.bekal.perlindungan.anak.di.masa.depan.
Penulis : Michael Metekohy
Pendidikan seks yang benar bisa melindungi anak dari berbagai masalah yang berkaitan dengan organ reproduksi. Termasuk dari kejahatan seksual. “Ma, penis itu apa?” tanya Zaki yang berusia lima tahun kepada ibunya. Bagi Zaki, istilah ‘penis’ merupakan hal baru. Sebab menurut pengetahuannya, alat kelaminnya bernama ‘burung’. “Saya bingung juga. Bagaimana cara menjelaskannya ya? Masa sih anak kecil sudah diajari yang beginian,” ujar Ibunda Zaki. Cerita di atas bisa jadi mewakili banyak pengalaman orang tua yang kebingungan ketika ditanya seputar organ kelamin oleh si kecil. Betulkah membicarakan organ kelamin yang notabene masuk ke dalam pendidikan seks tak pantas diajarkan pada anak kecil? Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi. menegaskan kalau pendidikan seks itu cakupannya luas sekali. Mulai dari pengenalan anggota tubuh sampai bagaimana cara merawat dan menjaganya. Jadi, salah besar jika menganggap pendidikan seks itu hanya seputar hubungan seks antara pria dan wanita. Mengenalkan nama alat kelamin yang benar pun termasuk pendidikan seks. “Pendidikan seks bisa dibilang sebagai bekal perlindungan anak di masa depan. Karena pendidikan seks dapat membuat anak lebih mengerti dan peduli tentang tubuhnya,” ujar psikolog yang akrab dipanggil Vera ini kepada Kompas.com. Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan anak untuk merawat dan menjaga organ reproduksinya. Harapannya, agar anak terhindar dari masalah kesehatan yang berkaitan dengan organ reproduksi. Bahkan, lanjut Vera, pendidikan seks bisa membentengi anak dari kejahatan seksual. Alasannya, pendidikan seks yang benar akan mengajarkan anak mengenai perlakuan yang tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya, terutama terhadap organ sensitif seperti alat kelamin. “Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan apa yang bisa dilakukan oleh anak untuk membela dirinya,” ucap Vera. Karenanya, pendidikan seks sebenarnya bukan hal tabu dan boleh diajarkan kepada anak. Bahkan, sebaiknya diberikan sedini mungkin. “Mengingat anak jaman sekarang banyak yang sudah masuk usia pubertas di usia 9-10 tahun. Pendidikan seks sebaiknya diberikan agar anak lebih tahu bagaimana membatasi pergaulan agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas,” kata Vera. Pendidikan seks bisa dimulai dari sekolah. Misalnya dengan menyisipkan materi pendidikan seks ke dalam mata pelajaran yang berkaitan. “Dengan maraknya kejahatan seksual pada anak, mestinya makin disadari bahwa salah satu cara melindungi anak adalah memberikan pendidikan seks yang tepat pada anak baik di rumah maupun di sekolah. Ini semestinya bukan lagi jadi hal tabu,” imbuh Vera.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Seks, Bekal Perlindungan Anak di Masa Depan", https://lifestyle.kompas.com/read/2016/11/18/200500923/pendidikan.seks.bekal.perlindungan.anak.di.masa.depan.
Penulis : Michael Metekohy
Pendidikan seks yang benar bisa melindungi anak dari berbagai masalah yang berkaitan dengan organ reproduksi. Termasuk dari kejahatan seksual. “Ma, penis itu apa?” tanya Zaki yang berusia lima tahun kepada ibunya. Bagi Zaki, istilah ‘penis’ merupakan hal baru. Sebab menurut pengetahuannya, alat kelaminnya bernama ‘burung’. “Saya bingung juga. Bagaimana cara menjelaskannya ya? Masa sih anak kecil sudah diajari yang beginian,” ujar Ibunda Zaki. Cerita di atas bisa jadi mewakili banyak pengalaman orang tua yang kebingungan ketika ditanya seputar organ kelamin oleh si kecil. Betulkah membicarakan organ kelamin yang notabene masuk ke dalam pendidikan seks tak pantas diajarkan pada anak kecil? Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi. menegaskan kalau pendidikan seks itu cakupannya luas sekali. Mulai dari pengenalan anggota tubuh sampai bagaimana cara merawat dan menjaganya. Jadi, salah besar jika menganggap pendidikan seks itu hanya seputar hubungan seks antara pria dan wanita. Mengenalkan nama alat kelamin yang benar pun termasuk pendidikan seks. “Pendidikan seks bisa dibilang sebagai bekal perlindungan anak di masa depan. Karena pendidikan seks dapat membuat anak lebih mengerti dan peduli tentang tubuhnya,” ujar psikolog yang akrab dipanggil Vera ini kepada Kompas.com. Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan anak untuk merawat dan menjaga organ reproduksinya. Harapannya, agar anak terhindar dari masalah kesehatan yang berkaitan dengan organ reproduksi. Bahkan, lanjut Vera, pendidikan seks bisa membentengi anak dari kejahatan seksual. Alasannya, pendidikan seks yang benar akan mengajarkan anak mengenai perlakuan yang tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya, terutama terhadap organ sensitif seperti alat kelamin. “Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan apa yang bisa dilakukan oleh anak untuk membela dirinya,” ucap Vera. Karenanya, pendidikan seks sebenarnya bukan hal tabu dan boleh diajarkan kepada anak. Bahkan, sebaiknya diberikan sedini mungkin. “Mengingat anak jaman sekarang banyak yang sudah masuk usia pubertas di usia 9-10 tahun. Pendidikan seks sebaiknya diberikan agar anak lebih tahu bagaimana membatasi pergaulan agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas,” kata Vera. Pendidikan seks bisa dimulai dari sekolah. Misalnya dengan menyisipkan materi pendidikan seks ke dalam mata pelajaran yang berkaitan. “Dengan maraknya kejahatan seksual pada anak, mestinya makin disadari bahwa salah satu cara melindungi anak adalah memberikan pendidikan seks yang tepat pada anak baik di rumah maupun di sekolah. Ini semestinya bukan lagi jadi hal tabu,” imbuh Vera.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Seks, Bekal Perlindungan Anak di Masa Depan", https://lifestyle.kompas.com/read/2016/11/18/200500923/pendidikan.seks.bekal.perlindungan.anak.di.masa.depan.
Penulis : Michael Metekohy
Pendidikan seks yang benar bisa melindungi anak dari berbagai masalah yang berkaitan dengan organ reproduksi. Termasuk dari kejahatan seksual. “Ma, penis itu apa?” tanya Zaki yang berusia lima tahun kepada ibunya. Bagi Zaki, istilah ‘penis’ merupakan hal baru. Sebab menurut pengetahuannya, alat kelaminnya bernama ‘burung’. “Saya bingung juga. Bagaimana cara menjelaskannya ya? Masa sih anak kecil sudah diajari yang beginian,” ujar Ibunda Zaki. Cerita di atas bisa jadi mewakili banyak pengalaman orang tua yang kebingungan ketika ditanya seputar organ kelamin oleh si kecil. Betulkah membicarakan organ kelamin yang notabene masuk ke dalam pendidikan seks tak pantas diajarkan pada anak kecil? Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi. menegaskan kalau pendidikan seks itu cakupannya luas sekali. Mulai dari pengenalan anggota tubuh sampai bagaimana cara merawat dan menjaganya. Jadi, salah besar jika menganggap pendidikan seks itu hanya seputar hubungan seks antara pria dan wanita. Mengenalkan nama alat kelamin yang benar pun termasuk pendidikan seks. “Pendidikan seks bisa dibilang sebagai bekal perlindungan anak di masa depan. Karena pendidikan seks dapat membuat anak lebih mengerti dan peduli tentang tubuhnya,” ujar psikolog yang akrab dipanggil Vera ini kepada Kompas.com. Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan anak untuk merawat dan menjaga organ reproduksinya. Harapannya, agar anak terhindar dari masalah kesehatan yang berkaitan dengan organ reproduksi. Bahkan, lanjut Vera, pendidikan seks bisa membentengi anak dari kejahatan seksual. Alasannya, pendidikan seks yang benar akan mengajarkan anak mengenai perlakuan yang tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya, terutama terhadap organ sensitif seperti alat kelamin. “Pendidikan seks yang benar juga mengajarkan apa yang bisa dilakukan oleh anak untuk membela dirinya,” ucap Vera. Karenanya, pendidikan seks sebenarnya bukan hal tabu dan boleh diajarkan kepada anak. Bahkan, sebaiknya diberikan sedini mungkin. “Mengingat anak jaman sekarang banyak yang sudah masuk usia pubertas di usia 9-10 tahun. Pendidikan seks sebaiknya diberikan agar anak lebih tahu bagaimana membatasi pergaulan agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas,” kata Vera. Pendidikan seks bisa dimulai dari sekolah. Misalnya dengan menyisipkan materi pendidikan seks ke dalam mata pelajaran yang berkaitan. “Dengan maraknya kejahatan seksual pada anak, mestinya makin disadari bahwa salah satu cara melindungi anak adalah memberikan pendidikan seks yang tepat pada anak baik di rumah maupun di sekolah. Ini semestinya bukan lagi jadi hal tabu,” imbuh Vera.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pendidikan Seks, Bekal Perlindungan Anak di Masa Depan", https://lifestyle.kompas.com/read/2016/11/18/200500923/pendidikan.seks.bekal.perlindungan.anak.di.masa.depan.
Penulis : Michael Metekohy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 Mitos Seputar Seks, Apa Hubungan Alat Vital dengan Hidung?

Mengapa Penting Mengajarkan Sexual Consent Kepada Anak?